Minggu, 05 Juni 2011

Why So Serious?


Oke, gw rasa hampir semuanya udah ga asing lagi sama judul post yang gw tulis di atas. "Why So Serious?" adalah sebuah line yang dipopulerkan oleh Joker, villain  dalam cerita Batman. Joker adalah seorang kriminal yang memiliki penampilan layaknya seorang badut, tentu dengan dandanan yang lebih gothic dan menyeramkan. Ia sering mengucapkan kata-kata di atas kepada korbannya saat beraksi. Berawal dari masa kecil yang sangat kelam, sebenarnya gw bisa merasakan, kalau Joker hanya ingin merasakan setitik kebahagiaan dari senyuman, namun dengan implementasi yang jelas salah...

That's all about Joker. Now back to our real life.



Belakangan ini, gw merasa sering berada dalam kondisi yang stressed-out. Kerjaan, masalah sama temen, gebetan, ortu, tugas kuliah, menjelang minggu UAS, semua numpuk jadi satu. And seriously, it ain't easy man...

Kadangkala, di dalam kondisi yang begini, orang jadi memiliki temperamen yang bener-bener berbeda. Dikit-dikit marah, hal-hal yang kecil dimasalahin, perselisihan kecil jadi panjang. Dalam keseharian gw, sebenarnya ini ga asing. Gw pribadi, kuliah sambil kerja. Keluar rumah jam 7 pagi, sampe rumah lagi paling cepet jam 7 lagi. Capek ga? Sangat. Di sisi lain, nyokap gw juga kerja. Dari jam 7, beliau udah mulai jahit. Jam setengah 8 pegawai udah mulai dateng, dan biasanya terus kerja sampai jam 9 (!) malam.

Dengan kondisi yang capek begini, mood jadi rusak. Adu ngomong dan adu bacot udah sering banget terjadi. Padahal untuk masalah, yang sebenarnya kalau dipikir-pikir, cuma hal sepele. Nada omongan dan pilihan kata jadi jauh lebih tajam.

Sampai sekarang, jujur ga ada masalah. Karena kita sama-sama tahu, itu cuma efek kecapekan doang. Kalau  begini ya jelas enak, sama-sama pengertian. Masalah ada kalau misalnya ketemu yang ga ngerti kan?

Terkadang, kita suka menanggapi masalah dengan terlalu serius. Bisa jadi gara-gara mood, tekanan, atau stress, seperti yang gw ceritakan di atas. Persoalan-persoalan sepele, yang sebenarnya ga perlu jadi panjang, apalagi sampai merusak hubungan yang telah terjalin. Masalah-masalah yang sebenarnya bisa selesai dengan satu kata "maaf" yang simpel.


Kadangkala juga, kita menganalisa permasalahan terlalu mendalam. Mencoba mencari apa maksud dan penyebab si dia begitu. Padahal bisa jadi, semuanya ga seperti yang kita pikirkan. Mungkin aja emang lagi kecapekan. Mungkin baru dimarahin ortunya. Mungkin baru dapet nilai jelek. Who knows?

Masalah itu sebenarnya kebanyakan timbul dari otak kita sendiri. Dengan akal pemberian Tuhan, yang seharusnya jadi anugerah, manusia malah sering menjerumuskan kita ke dalam masalah "buatan."



Coba deh kita renungin sejenak. Tarik napas dalam-dalam dan jernihkan pikiran. Bisa jadi, masalah yang sedang kita hadapin sekarang, sebetulnya ga perlu ditanggapin terlalu serius. Dengan approach yang lebih santai, justru logika kita akan lebih terbuka, dan kita akan bisa menyelesaikan masalah yang ada dengan lebih baik, tanpa perlu menyakiti perasaan siapapun.

Why so serious, then?

2 komentar:

Shirley mengatakan...

Hmmm.. judulnya sebenarnya bikin gw mengantisipasi pembahasan yg agak berbeda. But never mind, it's my crazy way of thinking anyway :)

Jaman kuliah dulu, entah kenapa gw jarang banget stres (mungkin karena itu kuliah gw gagal total, hahahahaha..) Gw memang sambil kerja sampingan jg, jadi kalo ada masalah kuliah, gw gila-gilaan ngerjain kerjaan gw biar lupa.

Skrg, karena punya tendensi nulis komedi, masalah yg datang biasanya otomatis gw ganti ke POV 'pembaca' atau audiens komedi yg adalah hidup gw. Gw beruntung ketemu temen-temen yg punya gaya begini jg utk melihat permasalahan mereka, jadi biasanya kita bisa rame2 ngetawain diri sendiri & satu sama lain XD

So you see, this outlook is what first got me to click on 'Why So Serious' link :)

@SmurfGalak

Boy Andri mengatakan...

@Shirley sebenarnya yang gw mau coba bahas adalah kita terkadang sering taking matters too seriously gitu, jadi ga santai. Tapi gw rasa ini agak gagal penyampaiannya. Oh well...

Posting Komentar

Jadilah pembaca yang aktif, tinggalkan komentar dan mari berbagi pikiran!