Senin, 06 Juni 2011

Penyesalan Memang Selalu Datang Terlambat

Kali ini gw mau share 2 buah cerita, yang menurut gw sangat menyentuh. Cerita tentang penyesalan yang datang terlambat. Penyesalan atas orang-orang tercinta kita. Mungkin cerita ini bisa bantu mengingatkan kita, memberikan setitik makna yang dalam. Dan post ini panjang banget, jadi tolong buka kalau emang udah siap mau baca.. :)


Cerita pertama diambil dari sini

SEBUAH PENYESALAN

Semuanya itu disadari Danny pada saat dia termenung seorang diri menatap
kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba memikirkan
mengenai pekerjaannya yang menumpuk, namun semuanya sia-sia belaka.
Yang ada di pikirannya hanyalah perkataan Anisa, anaknya, disuatu sore 3
minggu yang lalu.

Malam itu, 3 minggu yang lalu, Danny membawa pekerjaannya pulang. Ada
rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham.
Pada saat Danny memeriksa pekerjaannya, Anisa, putrinya, yang baru
berusia 2 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang
masih baru. Buku baru bersampul hijau bergambar peri. Dia berkata dengan
suara manjanya "Papa papa, lihat!"

Danny menengok dan melihat, "Wah buku baru yah?"
"Ya papa" katanya sambil berseri-seri, "Bacain donk".
"Wah ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh", kata Danny, yang
kembali mengalihkan perhatiannya ke tumpukan kertasnya.

Anisa hanya berdiri terpaku disamping Danny sambil memperhatikan. Lalu
dengan suaranya yang lembut dan dibuat-buat, kembali merayu.
"Tapi mama bilang, papa akan membacakannya untuk Anisa."
Dengan perasaan agak kesal, Danny menjawab "Anisa, dengar! Papa sangat
sibuk, minta saja mama untuk membacakannya"
"Tapi mama lebih sibuk daripada papa" katanya sendu.
"Lihat papa gambarnya bagus dan lucu"
"Lain kali Anisa, sana! Papa sedang sibuk", Danny berusaha untuk tidak
memperhatikan Anisa lagi.

Waktu berlalu, Anisa masih berdiri kaku disebelah ayahnya sambil
memegang erat bukunya. Lama sekali Danny mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba
Anisa mulai lagi.
"Tapi papa, gambarnya bagus sekali dan pasti ceritanya juga bagus, papa
pasti akan suka"
"Anisa sekali lagi ayah bilang,lain kali!" dengan agak keras Danny
membentak anaknya.
Hampir menangis, Anisa mulai menjauh "Iya deh, lain kali, ya papa lain
kali!"

Tapi Anisa kemudian mendekati ayahnya sambil menyentuh lembut ayahnya
dan menaruh bukunya dipangkuan ayahnya sambil berkata
"Kapan saja papa ada waktu ya,.. Papa tidak usah baca untuk Anisa, baca
aja untuk papa tapi kalo bisa, bacanya yg keras yah, biar Anisa juga
bisa mendengarkannya"
Danny hanya diam.

Kejadian 3 minggu yang lalu itulah yang ada di pikiran Danny. Danny
teringat akan Anisa yang dengan penuh pengertian mengalah. Anisa yang
baru berusia 2 tahun meletakkan tangannya yang mungil diatas tangannya
yang kasar mengatakan:
"Tapi kalo bisa, bacanya yang keras ya pa, supaya Anisa juga bisa ikut
dengar."
Dan karena itulah Danny mulai membuka buku cerita yang diambilnya dari
tumpukan mainan Anisa di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak terlalu
baru. Sampulnya sudah mulai usang dan koyak.

Danny mulai membuka halaman pertama, dan dengan suara parau mulai
membacanya. Danny sudah melupakan pekerjaannya, yang dulunya amat sangat
penting. Dia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap pemuda
mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh anak gadisnya di jalan
depan rumah.
Danny terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin.
Cukup keras bagi Anisa untuk dapat mendengar dari tempat
peristirahatannya yang terakhir.
MUNGKIN ........



Cerita kedua, gw ambil dari sini



Permainan 100 Hari

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat2 mereka
sedang asyik bercanda ria dengan kekasih mereka masing2.
Tina : “Duh, bosen banget. Gw jg mau punya pacar yg bisa berbagi waktu sama gw. “
Peter : “Kayak nya tinggal kita berdua doang deh yang jomblo. Cuma kita berdua aja yg ga punya pasangan.”
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)
Tina : “Kayaknya gw ada ide bagus nih. Kita adain permainan yuk? “
Peter : “Eh? Permainan apaan?”
Tina : “Enngg… Gampang sih permainannya, gw jdi pacar lu, dan lu jadi pacar gw, tapi hanya untuk 100 hari aja. Gimana? Mau ga? “
Peter : “ Oke… lagian gw jg ga ada rencana apa-apa buat bbrp bulan ke depan.”
Tina : “ Kok lu ga tlalu niat sih.. Semangat dong! Hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan2 kemana nih? “
Peter : “Gimana kalo kita nonton aja? Kalo gak salah film Seven Pounds lagi maen ya? Katanya bagus tuh”
Tina : “Oke deh.. Yuk kita pergi sekarang. Ntar pulang nonton, kita ke karaoke ya.. ajak adik kamu sama pacar nya, biar seru“
Peter : “Boleh juga... “
(merekapun pergi menonton, berkaraoke dan Peter mengantar Tina pulang malam hari nya)

Hari ke 2 :
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe yang remang2 dan alunan musik yg syahdu membawa hati
mereka pada situasi yg romantis. Sebelum pulang Peter membelikan sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.
Hari ke 3:
Mereka pergi ke mall untuk mencari kado buat sahabatnya Peter. Setelah berkeliling mall, mereka memutuskan untuk membeli
sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat, duduk di food court, makan satu potong kue dan satu gelas jus
berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.
Hari ke 7:
Bermain bowling bersama teman2 Peter. Tangan Tina sakit karena tidak terbiasa bermain bowling. Peter memijit2 tangan Tina
dengan lembut.
Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang
dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan seuara gelombang pantai.
Sekali lagi, Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.
Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yg
timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yg terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu
harapan saat meniup lilin ulang tahun.
Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama, dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan
sebuah boneka teddy untuk Tina, dan Tina membelikan Peter sebuah pulpen.
Hari ke 72:
Pergi ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negri China. Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal.
Sang peramal hanya mengatakan “Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang.” Kemudian peramal itu meneteskan air mata.
Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain.
Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air
laut menghempaskan kaki mereka. matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.
15.20 pm
Tina : “Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar.”
Peter : “Tunggu di sini, aku yang beli aja minumannya. Kamu mau minum apa? Aku teh botol aja ah.”
Tina : “Aku aja yg beli. Kamu kan capek udah nyetir keliling kota hari ini. Bentar ya”
Peter mengangguk. Kakinya memang pegal sekali karena dmn2 Jakarta selalu macet.
15.30pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit dan Tina belum juga kembali. Tiba2 seseorang yg tak dikenal berlari menghampirinya
dengan wajah panik.
Peter : “Ada apa, Pak?”
Orang asing : “Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayak nya perempuan itu temanmu”
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yg panas terjemur terik matahari siang, tergeletak
tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Peter segera mengambil mobilnya dan melarikan Tina ke rumah
sakit terdekat. Peter duduk diluar ruangan ICU selama 8 jam. Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.
23.53pm
Dokter : “Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yg terbaik, dia masih bernafas sekarang, tapi Yang Kuasa akan segera
menjemputnya. Kami menemukan surat ini dalam kantongnya.”
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan Peter segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat
Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Peter duduk disamping pembaringan Tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan torehan luka yg sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua
belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.

Dear Peter 
Ke 100 hari kita sudah hampir berakhir…Aku menikmati hari2 yg kulalui bersamamu. Walaupun kadang2 kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku… Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yg berharga dalam hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya. Sekarang aku tidak meminta apa2 hanya berharap kita bisa memperpanjang hari2 kebersamaan kita. Sama seperti yg kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai, aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada di sisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu


23.58 pm.

Peter : “Tina, apakah kau tau harapan apa yg aku ucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Akupun berdoa agar Tuhan 
mengijinkan kita bersama-sama selamanya.Tina, kamu tidak bisa meninggalkanku! Hari yg kita lalui baru berjumlah 99 hari! Kamu harus bangun dan kita akan melewati 
puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian! Tina, aku sayang padamu….!!”
Jam dinding berdentang 12 kali Jantung Tina berhenti berdetak.Hari itu adalah hari ke 100...


Satu cerita lagi. Yang satu ini gw pernah baca di buku Buddhist. Ada 3 orang biksu yang bersahabat, namun tinggal di tempat yang berjauhan. Setahun sekali, mereka bertiga berkumpul untuk meditasi bersama-sama.
Tiba saatnya mereka berkumpul. Lalu meditasi pun dimulai.

Di tengah-tengah meditasi, biksu pertama tiba-tiba saja berkata, "Tahun depan, kita masih bisa ga ya, berkumpul dan bermeditasi bersama-sama seperti ini lagi?"

Biksu kedua menanggapi, "Pikiranmu terlalu jauh ke depan, sobat! Minggu depan aku masih hidup atau tidak saja, tidak ada yang tahu!"

Biksu yang ketiga pun ikut angkat bicara, "Ah, kalian berdua memang terlalu jauh pikirannya. Nafas dari hidungku ini aku hembuskan, belum tentu bisa kutarik lagi!"

Waktu memang sebuah misteri. Siapa yang tahu apa yang terjadi di masa yang akan datang, hanyalah Tuhan yang tahu. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani hidup sebaik-baiknya, agar penyesalan tidak akan datang ketika takdir melintasi jalan hidup kita. Karena penyesalan memang selalu datang terlambat.

1 komentar:

klaravirencia mengatakan...

Hi there! am enjoying your writings as well :)

this one somehow reminds me of moments when I visited funerals... there, where regrets are accumulated, when we wish we had done better things while they were still breathing...
it's like we're being reminded that we should be nice to people before it's too late :|

Poskan Komentar

Jadilah pembaca yang aktif, tinggalkan komentar dan mari berbagi pikiran!