Rabu, 18 Mei 2011

Cerpen: Penebusan

Berikut adalah cerpen yang sedianya gw buat untuk ikut http://proyekhujan.livejournal.com/ , sebuah proyek dari nulisbuku.com. Singkat cerita, cerpen gw ditolak karena salah layout. Setelah dibagikan di wordpress, sekarang gw mau post lagi di blog pribadi gw. Ditunggu kritiknya yang membangun. Enjoy :)




Penebusan



Kupacu mobilku dengan kencang di jalanan kosong ini. Pertengkaran dengan Shinta, kekasihku, benar – benar telah membuat hatiku kalut. Kulampiaskan sesak di dadaku dengan menginjak pedal gas dalam – dalam. Toh, jalanan ini selain terpencil letaknya, di pinggir kota, sangat jarang ada orang yang melewatinya. Jadilah aku menyetir bak kesurupan.

Kira – kira tiga kilometer lagi aku akan sampai di Jakarta. Sudah terbayang apa saja yang akan kulakukan begitu sampai di rumah. Mandi, makan, bekerja, tidur. Ya, hanya rutinitas itu – itu saja yang mengisi keseharian hidupku. Pikiranku pun kembali tertuju kepada Shinta. Pujaan hatiku. Belakangan ini aku sering memikirkan ulang keinginanku untuk berkomitmen dengannya. Lama – kelamaan aku merasa kalau ia bukan gadis yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku. Sikapnya belakangan ini semakin jauh dari harapanku. Ah, seandainya perasaan bisa dikendalikan. Tentu takkan ada insan yang merana karena cinta.

Kembali kuarahkan pandanganku ke jalanan di depan. Kampung halamanku sudah tampak di kejauhan. Gemuruh mulai menyapa. Kudongakkan kepalaku. Tampak awan gelap mulai berkumpul, menularkan kesuramannya kepada langit. Mulai kupelankan laju kendaraanku. 130 km/jam. Tes!  Titik air pertama menyentuh kaca mobilku. Sialan, baru saja kucuci mobil ini, umpatku dalam hati. Namun, kekesalanku tidak bertahan lama, mengingat apa yang terjadi di detik berikutnya. Seorang ibu – ibu, sepertinya tunawisma, tiba – tiba muncul di jalur kendaraanku.

CIIIITTTT!! Kutekan rem sedalam – dalamnya. Kuputar setir ke arah kanan. Mobilku berputar 90 derajat. Kupejamkan mata sejenak, mencoba mengatur nafasku yang tersengal – sengal. Kulepaskan sabuk pengaman dan segera bergegas melompat keluar dari dalam mobil.

Si ibu roboh dalam posisi menyamping. Punggungnya membungkuk, seakan mencoba melindungi bayi di pelukannya. Mataku mulai panas. Air mata meleleh di pipiku, turun seiring dengan hujan yang menetes dari kolong langit. Darah sang ibu tercuci oleh air hujan. Kupegang nadinya, mencoba mencari tanda kehidupan. Nihil. Aku berlutut, bersimpuh di sampingnya, hendak memohon ampun. Kupejamkan mataku, dan kupanjatkan sebuah doa kepada Sang Ilahi. Berharap jiwanya diterima di sisi Sang Kuasa, dan semoga ia memaafkanku yang telah merenggut kehidupannya. Berharap, dosaku bisa terhapus, seperti air hujan menghapus noda darahnya. Sebuah permintaan yang mustahil.

Di sela – sela doaku, kudengar suara tangisan. Astaga! Bayi tersebut masih hidup! Buru – buru, kuambil bayi itu dari pelukan ibunya. Segera ku bergegas kembali ke mobil, hendak membawa si bayi ke dokter terdekat. Hiduplah, pintaku. Agar dosaku dapat sedikit teringankan.

--- 27 tahun kemudian---

Aku menyeruput tehku di pagi hari yang dingin ini. Kurenggangkan tubuhku, melemaskan otot – ototnya. Kembali aku menguap, sambil merutuk mengapa acara TV semalam begitu seru dan menarik perhatianku. Imbasnya, aku masih mengantuk saat ini.

“Ayah, mau sarapan roti tawar?” sebuah suara memanggilku dari arah dapur.

“Boleh! 1 tangkap ya. Pakai selai kacang!”

Tak lama kemudian, muncul sesosok gadis cantik dari arah dapur, membawa dua buah piring yang berisi masing – masing 1 tangkap roti tawar. Diletakkannya 1 piring di hadapanku, lalu ia mengambil tempat duduk di sofa di depanku.

“Ayo ayah, dimakan,” ujarnya lembut sambil tersenyum.

Aku balik tersenyum kepadanya. Gadis yang sangat elok di pandangan mata. Rambutnya panjang, berwarna coklat, dan berombak. Matanya berwarna sama seperti rambutnya, dihias dengan bulu mata yang lentik. Pipinya yang kemerahan walau tanpa riasan, membuat senyumnya enak dilihat dan segar, dengan lesung pipi yang menggoda setiap senyuman mengembang dari paras cantiknya. 

Tidak terasa, waktu telah berlalu begitu cepat, batinku dalam hati.

Masih tergambar jelas di benakku, saat – saat tegang aku menanti penjelasan dokter yang memeriksanya. Rasa bersalah yang amat dalam menusuk diriku. Beribu pertanyaan merasuk pikiran. Andai saja aku tidak menyetir bak orang kesetanan. Andai saja aku bisa melihat si ibu dari kejauhan. Bagaimana nasib si kecil, setelah aku membunuh ibunya? Masa depannya? Apakah si ibu yang kutinggalkan di pinggir jalan ada yang mengubur? Ya Tuhan, aku bahkan lupa untuk menguburnya secara layak. Betapa biadab diriku. Kupejamkan mata dan kutarik nafas dalam – dalam. Kuhempaskan tubuhku ke kursi tunggu. Lelah menyergap.

Beruntung sekali, si bayi tidak terkena luka yang serius. Hanya beberapa benturan kecil dan demam, mungkin akibat kehujanan. Seucap syukur kupanjatkan kepada-Nya. Mungkin, inilah kesempatanku untuk menghapus sebagian kecil dari dosaku. Aku rela, menukar sisa hidupku, asalkan anak ini bisa memiliki hidup yang bahagia.

Kuputuskan untuk merawat anak ini, walau harus seorang diri. Aku menyewa seorang babysitter untuk membantu mengasuhnya di saat aku bekerja, mengurus sebuah cafe yang kubangun dari tabunganku sendiri. Belanja kilat untuk membeli kebutuhan bayi. Membereskan kamarku untuk dimuati sebuah ranjang boks mungil. Semua kulakukan untuk buah hatiku, yang kuberi nama Kiara Lestari.

Beberapa saat setelah itu, orang – orang mulai bertanya – tanya mengenai keberadaan Kiara yang tiba – tiba muncul di hidupku. Aku yang pengecut, mengaku bahwa Kiara adalah anak yang kupungut dari panti asuhan untuk menemani hidupku yang kesepian. Shinta bilang kalau aku sudah gila, dan akhirnya pergi meninggalkanku untuk bersama dengan seorang pengusaha mebel. Tak lama setelah itu, kudapati kabar bahwa pengusaha itu sudah memiliki 2 orang istri sebelum dirinya. Teror pun mulai dikirim, ditujukan untuk Shinta. Sampai pada batasnya, Shinta memutuskan untuk kabur. Saat ia mengetuk pintu rumahku dan meminta maaf, aku hanya berujar dari balik pagar. “Kasihan.”

Kiara kecil tumbuh agak berbeda dibanding anak seusianya. Ia lebih pendiam, sopan, dan rasa ingin tahunya tidak sebesar anak sebayanya. Bila anak – anak lain sering bertanya ini – itu untuk memuaskan rasa keingintahuannya, tidak begitu dengan Kiara. Bahkan, ia tidak menanyakan lebih lanjut, saat kubilang ibunya meninggal saat melahirkannya. Pernah aku ketakutan, mengira ia mengidap autisme. Ketakutan itu sirna tatkala aku melihatnya bisa bercanda riang dengan teman – teman sebayanya.

Kiara boleh saja tumbuh menjadi anak yang baik dan penurut, namun rasa bersalah di hatiku tidak pernah hilang. Ibunya mungkin saja hanya seorang tunawisma, tetapi bisa jadi hanya ialah satu – satunya kerabat Kiara di muka bumi. Dan aku telah merenggut itu darinya. Detik – detik kematian sang ibu masih terekam jelas di benakku, dan seingkali kembali untuk menghantui mimpi burukku.

Sejak mengasuh Kiara, aku tak lagi percaya diri untuk menjalin hubungan dengan gadis – gadis seperti dulu. Aku taku, mereka tidak akur dengan Kiara, atau tidak bisa menerima keberadaannya. Walau memang pada awalnya aku mengasuhnya karena ingin menebus kesalahanku, tetapi lama – kelamaan gadis kecil ini mampu memikat hatiku. Hanya Kiaralah yang paling utama bagiku. Kebahagiaannya adalah tujuan utamaku. Memang, aku sempat menjalin hubungan yang cukup serius dengan beberapa gadis, namun tak ada satu pun yang bisa bertahan lama. Ah, sendiri pun tak jadi masalah buatku. Selama malaikatku ada di sini, bersamaku.



Memang benar apa kata orang, anak bertumbuh besar dengan cepat sekali. Hari – hari yang terasa lama dan membosankan dengan pekerjaan yang menumpuk, tak lama telah berganti menjadi minggu. Minggu berganti bulan. Tahun. Dan seterusnya. Tiba – tiba si anak sudah akan memasuki masa puber. Berhubung anakku adalah perempuan, aku pun agak bingung mengenai apa yang harus kulakukan. Beruntunglah ada suster Rina, babysitter yang sudah mengasuh Kiara sejak ia masih bayi.

Seragam putih merah Kiara sudah berganti menjadi putih biru. Anak ini sudah semakin dewasa. Sudah puber, sudah bisa bepergian sendiri dengan teman – teman sebayanya, sudah mulai mengenal kaum adam. Sebentar lagi, seragamnya akan berganti menjadi putih abu – abu, menandakan kebebasan yang akan semakin dituntut. Benar saja. Masa 3 tahun di SMP berlalu begitu cepat untuk kami.

Tapi beruntung bagiku, sampai bangku kuliah pun, Kiara hampir tidak pernah membuat kepalaku pening dengan kenakalan khas remaja lainnya. Paling cuma sekali – kali ia pulang larut malam, itu pun setelah ia terlebih dahulu memberi kabar kepadaku. Lelaki – lelaki yang pernah menjalin hubungan dengannya, selalu ia perkenalkan kepadaku. Syukurlah, mereka semua tampak seperti anak baik – baik.

Kini, yang tampak di hadapanku adalah sosok Kiara, anakku, yang sudah dewasa. Setelah menamatkan kuliahnya, ia melanjutkan dengan mengelola usaha kafe yang sudah kurintis sejak dulu. Yang membuatku tambah bahagia, Kiara sudah menemukan tambatan hatinya. Armand, kakak kelasnya saat ia SMU dulu, telah melamar Kiara pekan lalu. Pernikahan mereka akan dilaksanakan 3 bulan lagi, jika tak ada aral melintang. Aku ingin sekali menemani anakku di hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun aku tak bisa berjanji. Memang, manusia hanya bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan. Dokter telah memvonisku mengidap kanker hati stadium 3. Efek dari akumulasi kecapaian fisik, batin, dan kebiasaanku menenggak alkohol untuk melepas stress. Hidupku mungkin sudah tak lama lagi.

Sekarang, di pagi hari sejuk gerimis ini, aku berencana menceritakan semuanya kepada Kiara. Akhirnya, beban yang selama ini kutanggung begitu berat di pundakku, akan lepas juga. Mungkin, Kiara akan membenciku setelah mengetahui bahwa akulah yang telah membunuh ibu kandungnya. Namun ia berhak tahu yang sebenarnya. Tekadku sudah bulat.

Kuserahkan diary ini kepadanya. Ia nampak bingung dan bertanya – tanya.

“Bacalah,” kataku singkat.

Ia pun membuka lembaran pertama. Matanya bagai tersedot pada tulisanku. Raut wajahnya datar, namun aku menangkap setetes air yang coba ia sembunyikan di pelupuk matanya. Kutarik nafas dalam – dalam. Aku pasrah.

Diaryku ditutup, lalu ditaruh di atas meja. Ia menatapku tajam, tanpa suara. Aku tak kuasa lagi menahannya. Tangisku meledak. Keluar, mengalir sepanjang pipi tirus dan keriput ini.

“Maafkan aku. Seumur hidupmu, kau hidup dalam kebohongan yang kubuat.”

Aku bangkit dari kursiku, hendak bersimpuh di hadapannya. Ia menahanku, lalu mendudukkanku kembali di kursi.

“Ayah,” katanya dengan lembut seraya memelukku.

Kucium keningnya. Kuusap rambut gadis kecilku. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih. Kupererat pelukanku.
Di angkasa, aku melihat sang ibu tersenyum kepadaku. Sekarang, aku siap untuk bertemu dengannya, meminta maaf padanya. Kupejamkan mataku.

3 komentar:

Dea Githa Putri mengatakan...

simple dan apa adanya. pemilihan nama untuk karakternya sangat bagus, karena it's so Indonesian.
tapi, isinya terlalu singkat dan cepat. khusunya bagian akhirnya. jadi terkesan ingin segera diselesaikan. But, I love it.

Boy Andri mengatakan...

@Dea Githa Putri pendek, soalnya waktu mau ikut proyek dibatasin 4 halaman cerpennya. Terima kasih banyak ya! :)

Shirley mengatakan...

I remember when you tweeted about this :)

Mind if I give a suggestion? You can disregard it of course.

Begitu gw selesai baca gw langsung kepikiran nulis ulang cerita ini jadi satu adegan doang. Atau mungkin lebih tepatnya satu frame...? Anyway, I'm not sure about the term. But you should know what I mean :)

Soalnya gw rasa bisa semua info yg ada tentang cerita ini di-introduce dalam satu scene. Kiara si calon pengantin & anak baik-baik tiba-tiba dikonfrontasi kenyataan ayahnya segera meninggal plus cerita ttg ibunya yg sebenarnya.

Perasaannya kacau, marah... dan jadi konflik besar karena dia sayang papanya, apalagi papanya sdg sekarat. Amarah, tuduhan dan kalimat2 tajam terekspresikan sebelum Kiara sempat berpikir - all serving as cue to the Dad, to talk about how tortured he was, has been ever since, etc.

Gw tau sih, habis satu proyek biasanya berat utk rewrite. Maunya move on to the next project. Saran gw ini just in case aja, klo cerpennya mw ditulis ulang. Soalnya potensi konfliknya bagus :)

@SmurfGalak

Posting Komentar

Jadilah pembaca yang aktif, tinggalkan komentar dan mari berbagi pikiran!