Rabu, 03 Oktober 2012

Para Pencari Stress

Dear readers, embrace yourself! Ber suffix months are coming... (Bulan berakhiran -ber akan segera datang). Sudah berapa banyak dari kita yang menjadi korban dari hujan bulan Oktober yang bahkan baru berjalan belum seminggu? Hehehe... Saran penulis, siapkan sendal jepit di bagasi kendaraan/tas, vitamin c dan makan harus teratur. Mari jaga kesehatan!

Penulisan blog kali ini datang dari satu inspirasi gue saat berada di kamar mandi (lagi mandi, serius). Memang ga salah kalau banyak orang bilang, sumber inspirasi terbaik ya salah satunya adalah kamar mandi. Hal ini diakui oleh Nicole Kidman, Andy Murray, bahkan sampai Rian D'Masiv. Lalu pertanyaan berikut, apa sih yang kepikiran sama gue ketika byur byur nyiram air dari gayung? Stress. Tingkat stress penduduk Jakarta. Korelasi tingkat stress penduduk Jakarta dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Nah itu bisa tuh jadi cadangan judul skripsi nanti...



Anyway, menurut gue kata stress sudah sepatutnya menjadi satu kata yang mengalami pergesaran makna dan harus diajarkan di buku panduan Bahasa Indonesia anak SD mendatang, masalahnya gue bingung apa harus generalisasi, spesialisasi, ameliorasi, atau peyorasi (buat yang bingung/lupa bisa baca di sini). Kayaknya sih generalisasi/perluasan. Soalnya sekarang anak kecil kelas 3 SD aja udah fasih banget ngomong, "Aduh, aku lagi stress banget nih!" Iya kan? Iya kaan?!

Yep, tingkat stress di Jakarta emang udah sedemikian parah, walaupun ga bisa dibuktikan sama contoh anak SD di atas. Seinget gue, kayaknya gue pernah ngequote kata-kata dari dosen legendaris gue, tapi lupa di post yang mana-mana. Beliau waktu itu bilang, stress itu adalah ketika realita ga sesuai dengan harapan. Simple, yet powerful.

Lalu apa dong harapan kita? Pasti banyak lah. Mulai yang muluk-muluk, yang kita ga berharap akan terwujud, apa yang kita setengah harapkan terjadi, atau yang benar-benar kita expect. Kira-kira gitulah. Kalau memang kita ga begitu harapkan, ketika ga dapet ya pasti begitu-begitu aja. Tapi ketika kita udah bener-bener expect? Well, lain ceritanya. Stress lah. Apalagi ketika usaha yang udah kita keluarkan untuk mendapat "sesuatu" itu udah maksimal, paling enggak menurut kita.

Gue lalu berpikir, dalam pelajaran biologi dulu ada diajarin, dalam penelitian ilmiah ada yang namanya variabel bebas dan terikat. Variabel bebas adalah yang kita kontrol, sedangkan yang terikat adalah yang kita perhatikan, setelah kita melakukan perubahan pada variabel bebas tersebut. Lalu kalau boleh dikaitkan di sini, bukannya "usaha" itu variabel bebas, dan "hasil" itu variabel terikat?

Karena sebenarnya manusia itu hanya bisa mengatur usaha yang dia keluarkan, tapi perkara hasil itu urusan lain. Di sini ga berlaku ceteris paribus, artinya banyak faktor yang berpengaruh pada hasil akhir, apapun itu yang kita harapkan. Rasa-rasanya, agak kurang bijak kalau kita hanya mengejar hasil belaka, tapi dengan "usaha" yang ga wajar dan sepantasnya. Dan ironisnya, justru hal ini yang udah mendarah daging di masyarakat sekarang, karena masyarakat udah terbiasa menjudge seorang individu dari "hasil" atau "produk akhir" yang mampu ia keluarkan. Kalau pelajar, maka akan dijudge dari nilai. Kalau pekerja, akan dinilai dari pendapatan. Stress yang timbul dari ga sesuainya "hasil" dengan "usaha" yang ia keluarkan, sedikit banyak menjadi pemicu orang-orang yang mengambil jalan pintas tersebut. Menyontek, beli soal ujian, jual diri/pelacuran, korupsi, perampokan itu cuma sebagian kecil contoh.

Gue pribadi selalu berusaha meyakinkan diri gue dan orang-orang disekitar gue (walaupun ga gampang), yang penting adalah kita udah berusaha semampu kita. Hasil biarkan diatur oleh Yang Maha Kuasa. Karena dengan usaha yang maksimal, kita sudah memperkaya satu unsur dalam diri kita, entah hasilnya sesuai yang kita harapkan atau enggak. Proses, biar bagaimanapun, sama sekali ga kalah penting dengan hasil, kalau ga lebih penting. Paling enggak dengan cara ini, ekspektasi kita bisa turun. Dan ketika ekspektasi udah turun, realita yang sakit pun ga terlalu berpengaruh amat.

Hidup itu memang cuma sebentar. Sayang rasanya kalau kebanyakan diisi dengan stress, apalagi kalau kebanyakan asalnya dari ekspektasi kita yang berlebihan. Akhir kata, don't worry, be happy. Du dudududu dududududududu....


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jadilah pembaca yang aktif, tinggalkan komentar dan mari berbagi pikiran!