Kamis, 11 Oktober 2012

Bagaimana Cara Mencinta?

Alkisah, ada seorang anak lelaki yang belum paham cara mencinta. Ia hanya bisa menuntut, merengek, dan protes ketika keinginannya untuk dicinta kembali tidak dipenuhi. Ketika perhatian yang ia curahkan tidak dibalas sesuai harapannya, rasa kesal yang memancar tidak dapat ia kendalikan. Sebenarnya dalam hati kecilnya, ia hanya menginginkan sosok ibu yang membelainya. Ia hanya ingin dicinta. Tapi ia tidak dapat menunjukannya dengan cara yang dinilai sesuai oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi siapalah kita untuk mengatur bagaimana seorang mengungkapkan rasa cintanya?

Alkisah, ada seorang anak perempuan yang belum paham cara mencinta. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengalihkan rasa yang kuat untuk selalu memperhatikan idaman hatinya. Maka itu, ia melampiaskannya dengan bersikap kasar, ketus, dan seolah-seolah tidak peduli. Padahal dalam hati kecilnya, ia hanya ingin untuk memberikan sedikit kasih sayang, agar sang pangeran bisa sedikit lega beban hidupnya dalam dunia yang keras ini. Hanya saja ia belum belajar bagaimana cara mencinta sebagaimana diharapkan orang-orang di sekitarnya. Tapi siapalah kita untuk mengatur bagaimana seorang mengungkapkan rasa cintanya?



Alkisah, mereka berdua akhirnya bertemu pada waktu yang salah. Entah apa yang sesungguhnya dirasa oleh masing-masing hati, tetapi takdir seakan berjalan begitu kejam untuk mereka. Sang anak lelaki merasa tidak mampu membahagiakan perempuannnya. Perempuannnya selalu marah dan menuntut ini-itu. Selalu bersikap ketus kepada lelakinya, walaupun sikapnya kepada teman-teman lelaki lainnya sangatlah manis. Anak lelaki ini tidak menemukan pelampiasan lain selain lebih menuntut lagi. Sang anak Perempuan merasa tidak mampu menyatakan perhatiannya dengan benar. Selalu ada teman-teman di sekeliling anak lelaki. Ia selalu merasa dinomorduakan. Ia hanya ingin memberi perhatian dan memuaskan naluri keibuannya. Anak wanita tidak menemukan pelampiasan lain selain lebih bersikap ketus lagi. Mereka sama-sama bingung, ketika hati dan tindakan merasa lain. Memang cara mereka menunjukkan cintanya tidaklah wajar. Tapi siapalah kita untuk mengatur bagaimana seorang mengungkapkan rasa cintanya?

Alkisah, mereka bertemu lagi, lama setelah kisah mereka usai. Si anak lelaki sudah tumbuh menjadi pria mapan dan dewasa. Pria yang tidak lagi menuntut kebahagiaan dari sang wanita. Pria yang malah memenuhi kebutuhan-kebutuhan wanitanya. Dan percayalah, hal itu lebih mudah dikatakan dibanding dilakukan. Si anak perempuan telah tumbuh menjadi perempuan sejati. Wanita yang mampu mendukung laki-lakinya dengan memberikan kenyamanan dan kehangatan seolah di rumah. Wanita yang mampu mendukung lelakinya, agar mereka berdua dapat berjalan mengarungi kerasnya hidup beserta tuntutan-tuntutannya yang semakin tidak masuk akal. Kini mereka bertemu kembali, walaupun bukan dalam hubungan cinta antara seorang pria dan wanita. Kini mereka bertemu kembali, dan bersama itu memori akan kisah-kisah yang dulu mulai ikut tersusun, namun kenangan pahit tertinggal, entah sengaja atau tidak. Kini mereka sadar betapa kekanak-kanakkan nya mereka dulu. Bukan mereka tidak saling mencinta, tapi hanya menunjukkannya dengan cara yang salah. Tapi siapalah kita untuk mengatur bagaimana seorang mengungkapkan rasa cintanya?

Alkisah, mereka mulai kembali merasakan gejolak dalam hatinya. Keduanya berhasrat untuk kembali seperti dulu lagi, meninggalkan pasangan yang mengabdikan diri dalam pendewasaan mereka. Kini hubungan yang mereka bangun dengan wanita dan pria masing-masing, kandas karena cinta masa lalu yang datang mengetuk tanpa permisi. Dengan keyakinan penuh bahwa mereka sudah dewasa, mereka mencoba menjalani kisah ini sekali lagi. Ternyata kedewasaan itu suatu konsep yang relatif. Manusia cenderung untuk bersikap kepada seseorang sesuai kebiasaannya. Tak heran kita cenderung kekanak-kanakan ketika bertemu teman jaman SD dulu. Saat mereka bersama, mereka tetaplah seorang anak lelaki dan perempuan yang selalu menuntut dan bersikap dingin. Selalu marah-marah dan cengeng. Selalu mengungkapkan cintanya dengan cara yang seharusnya salah. Tapi siapalah kita untuk mengatur bagaimana seorang mengungkapkan rasa cintanya?

Alkisah, masih tersisa sedikit kedewasaan dan akal sehat dalam hubungan mereka yang perlahan mengikis batin kedua belah pihak. Bukannya tidak mencinta, hanya mereka tidak bisa bersama. Bukan suatu yang gampang untuk mengakui kalau kita tidak bisa bersama dengan orang yang paling kita cintai di muka bumi ini. Orang yang paling ingin kita bahagiakan. Orang yang ingin kita pastikan kalau ia sudah makan siang tepat waktu dan sudah meminum vitamin hariannya. Orang yang terpikir ketika kita menemukan suatu video lucu di internet atau komik yang mengharu biru, mereka lah yang ingin pertama kita bagi kebahagiaan itu. Orang tempat kita berbagi kesusahan-kesusahan kecil dan keluh kesah, walaupun yang kita inginkan hanyalah sebuah pelukan dibanding sebuah nasihat bijak. Tidak mudah mengakui, kita tidak bisa bersama mereka. Tidak mudah mengakui, kita akan lebih bahagia tanpa keberadaan mereka di hidup kita, ketika kita merasa justru merekalah sumber segala kebahagiaan kita. Namun ketika bersama, mereka hanya akan saling menyakiti. Karena mereka menunjukkan cinta dengan cara yang sama, hanya berbeda waktu. Tapi siapalah kita untuk mengatur bagaimana seorang mengungkapkan rasa cintanya?

Alkisah, mereka mengungkapkan sebuah ikrar di bawah sinar bulan purnama. Namun bukan ikrar sehidup semati, sayang. Ikrar yang pahit dan berderai air mata, bahwa di antar mereka akan selalu ada sebuah garis yang tidak boleh mereka lewati. Batasan yang harus dijaga demi masa depan mereka sendiri, keutuhan hati mereka sendiri. Kini mereka berpisah dan masih terus menjaga tali hubungan baik, walaupun mereka sama-sama sadar, keinginan untuk kembali merajut kasih harus dikubur dalam-dalam. Kini mereka belum siap untuk melanjutkan kembali kisah asmara dengan insan manusia yang lain. Mereka hanya berfokus untuk menutup suatu lubang di hati mereka, sebelum mencoba mengisi lubang itu dengan keindahan yang lain, agar keindahan tersebut tanpa cela dan tidak tercemar luka sebelumnya. Walau begitu tetap tertera tanda tanya besar yang sepertinya tidak akan terjawab. Mengapa kita tidak bisa bersama? Mungkin mereka hanya bertemu di waktu yang salah. Mungkin mereka hanya bertemu dengan cara yang salah. Mungkin mereka hanya mencinta dengan cara yang salah. Tapi siapalah kita untuk mengatur bagaimana seorang mengungkapkan rasa cintanya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jadilah pembaca yang aktif, tinggalkan komentar dan mari berbagi pikiran!