Kamis, 27 September 2012

Sahabat yang Hilang

"Waktu ku kecil hidupku amatlah senang..."
Harusnya hampir semua remaja Indonesia, minimal yang sekarang sudah menginjak bangku kuliah, pernah mendengar potongan lagu Bunda Piara di atas. Berapa banyak dari kita yang langsung senyum-senyum sendiri atau minimal berhenti sejenak untuk mengenang masa lalu yang indah tersebut? Pasti ada, yakin.

Katanya, jadi anak-anak itu enak. Mau apa tinggal omong, begitu kata Tasya dulu. Ya memang ada benernya sih, karena anak-anak itu juga belum dipusingin oleh kejamnya realita hidup. Belum mengerti kerasnya hidup, intrik-intrik sesama kerabat, dan lain sebagainya. Mereka masih hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan mereka, tanpa perlu musingin bagaimana caranya. Dan sekali lagi, mereka cuma perlu ngomong doang...



Salah satu fitur kehidupan masa kecil setiap anak adalah kehadiran teman main. Sahabat istilahnya, kalau bahasa inggris nya itu buddy. Setiap anak pasti punya, minimal satu. Mereka inilah yang menemani hari-hari kita, entah pas sekolah, di kelas, sepulang sekolah, pas main, ngerjain peer, nakal-nakalan bareng, selalu bareng. Ketika lagi ngeselin, ya kita bisa aja ngomelin mereka seenak kita, begitu juga sebaliknya. Toh nanti akan baikan lagi. Namanya juga anak-anak...

Seiring waktu berlalu, si anak ini akan tumbuh dan berkembang. Memasuki bangku pendidikan sekolah menengah, entah pertama maupun akhir. Lalu dilanjutkan ke bangku kuliah. Apa ada di antara kita yang masih sering kontek dengan sahabat masa kecil? Penulis yakin-seyakinnya, kalaupun ada pasti jumlahnya enggak banyak. Kebanyakan dari kita biasanya selama SMP, SMA, ataupun kuliah udah kenal teman-teman baru. Dan sahabat kita ya berkisar pada yang satu sekolah/kampus saat itu aja biasanya. Dan lalu pertanyaan berikutnya, kemana perginya sahabat masa kecil kita itu?

Atau kejadiannya, banyak juga temen yang dari SMP atau SMA, tiba-tiba jadi ga deket lagi begitu pisah sekolah. Padahal dulu dekeeeeet banget. Dulu tiap di sekolah main bareng. Begitu bel sekolah berbunyi, entah sekelas atau enggak, pasti makan bareng di kantin. Kalau ada peer kerjain bareng (yang ini pasti udah agak jarang). Pergi ke mall bareng-bareng (nah yang ini baru rutin). Telponan, curhat-curhatan, nangis-nangisan. Pokoknya deket banget. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang.... Bukan, tapi semua berubah ketika udah ga satu sekolah. Kejadian?

Kalau dipikir-pikir, memang sebenernya sayang banget. Sama sekali ga gampang untuk membina satu hubungan dengan manusia lain, apalagi sampai merasa akrab dan nyaman. Ajaran Buddhist bilang, jika kita bisa membina hubungan baik dengan seseorang, pasti di kehidupan yang lalu pun kita udah berjodoh dengan dia, dan diteruskan sampai kehidupan sekarang. Kalau hubungan tersebut harus tiba-tiba balik ke posisi nol dan jadi canggung lagi, sayang kan? Yah tapi memang begitulah adanya... Menurut gue ini adalah hal yang lumrah dan sering terjadi, walau tidak disarankan apalagi didukung. Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Mungkin sedikit ga nyambung, tapi yang kita paling sayang tentu saja yang akrab dengan kita setiap hari, yang sering kita lihat wajah dan tingkah lakunya, paling enggak untuk periode waktu itu.

Ga ada gunanya meratapi temen yang tadinya udah level saudara kandung sekarang turun pangkat kembali menjadi sekedar teman baik. Sisa-sisa keakraban dan kehangatan yang dulu terjalin kuat, ga akan gampang untuk dihilangkan. Justru kita harus berterima kasih dan bersyukur dengan adanya mereka. Mereka yang dulu udah mengisi dan menemani hari-hari kita yang sekarang tinggal jadi kenangan. Tanpa adanya mereka sebagai bagian sejarah kita, kita tidak akan menjadi kita yang sekarang. Dan kita cuma bisa melangkah maju.

Karena halangan terbesar seseorang untuk maju adalah ketika ia terperangkap di masa lalu...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jadilah pembaca yang aktif, tinggalkan komentar dan mari berbagi pikiran!